Kemarau, Sungai Pawan Mendangkal

Senin, 27 Agustus 2012

KETAPANG – Kemarau panjang masih terus melanda Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Akibatnya, warga mulai kesulitan air bersih dan kabut asap akibat pembakaran lahan terus mengepung daerah ini.  Ironisnya lagi, akibat kemarau lahan gambut dalam sekejap terbakar. Seperti sepanjang jalan Sungai Awan – Tanjungpura, Sungai Pelang, dan lain-lain, terus mengepulkan asap.

Di sisi lain, Sungai Pawan yang menjadi nadi perekonomian Ketapang juga kering. Transportasi melalui sungai terhenti. Kota Ketapang dan beberapa kecamatan di perhuluan hanya bisa dihubungkan dengan jalur darat yang sebagian besar berbadan tanah. Akibatnya, selain ruas jalan yang tidak rata, perjalanan menghubungkan ibukota kabupaten dengan kecamatan juga dilalui berdebu. “Pada malam takbir ada juga hujan sedikit, untuk menghilangkan debu saja nampaknya masih kurang,” ungkap Sunadi, warga Ketapang.

Untuk kebutuhan air bersih, menurut dia, warga masih mengandalkan cadangan air hujan serta membeli air galon. Begitu juga, ditambahkan dia bahwa warga masih mengandalkan air sumur untuk kebutuhan memasak dan mencuci, serta mandi. Selain itu, beberapa warga juga mendatangkan mobil tanki PDAM, serta membeli air bersih yang didatangkan dari Gunung Palung.

Kemarau panjang tak hanya menjadikan warga kesulitan air bersih. Hampir setiap hari warga dihadapkan dengan lahan yang terbakar, dan petani juga belum dapat mengolah lahan untuk menanam padi. Di sisi lain, tidak sedikit bibit tanaman yang mati akibat kurangnya air.  Demikian juga di Kabupaten Kayong Utara. Sejumlah warga Ketapang yang sempat berlebaran di sana mengakui kesulitan untuk mandi.

Pasalnya air sumur dan sungai di sekitar Teluk Melano sudah dirembesi air asin. Warga setempat untuk kebutuhan air bersih, mau tidak mau harus mengandalkan sumber air bersih dari Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Pada beberapa anak sungai dan sumber mata ir di gugusan TNGP, terlihat warga dari Kecamatan Simpang Hilir bahkan dari Ketapang antre mengisi air. Ada yang membawa jeriken dengan sepeda motor maupun mobil. Pemandangan tersebut sudah terlihat sejak Ramadan hingga usai Idulfitri. Dari pagi sampai malam warga mengambil air bersih untuk kelangsungan hidup keluarganya. “Sejak sebelum Ramadan, di Teluk Batang ini belum ada hujan,” kata seorang warga Teluk Batang. (ads)

Sumber: http://pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=114849

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: