Wujudkan Danau Sentarum Lestari

Jumat, 6 Februari 2009

Wujudkan Danau Sentarum Lestari

Oleh:Rasdi Wangsa
Sejak tahun 2005, Aliansi Organis Indonesia (AOI) bersama anggotanya di Kalbar, yang terdiri dari Yayasan Riak Bumi, Yayasan Dian Tama, PRCFI, Lorens, Irawan, APDS, menjalankan program pengembangan potensi madu hutan Danau Sentarum, guna mewujudkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di kawasan itu.
Inisiatif ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari inisiatif LSM lain dan masyarakat Danau Sentarum yang telah dilakukan sejak tahun 1980-an.
Proses panjang sejak tahun 2005 menghasilkan sebuah Sistem Pengawasan Mutu Internal (SPMI) bagi produsen kelompok kecil usaha madu hutan untuk memperoleh sertifikat organis. Sistem ini menjamin kelompok secara internal melakukan pengawasan terhadap dirinya, dan terdokumentasi secara tertulis yang dapat diperiksa oleh pihak lain secara objektif.
Pada awalnya, pengorganisasian meliputi lima periau (organisasi tradisional pengelola madu hutan) di Desa Nanga Leboyan. Yaitu Periau Suda, Meresak, Danau Luar, Semangit dan Semalah. Yang akhirnya mereka menjadi pendiri Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS). APDS pun berkembang menjadi delapan periau. Yakni lima yang disebut di atas ditambah dengan Periau Pulau Majang, Nanga Telatap dan Tempurau. Diharapkan pengorganisasian menggunakan SPMI ini akan meliputi semua periau di TNSD yakni 33 periau.
APDS pada tahun 2007 berhasil menerapkan SPMI dan memastikan 4,3 ton madu hutan organis yang dihasilkannya organis. Ini dilegalkan oleh Board of Indonesian Organic Certification (BIOCert) dengan memberikan sertifikat organis bagi APDS yang diserahterimakan oleh Menteri Kehutanan di Cisarua, Bogor.
Saat ini,  anggota APDS telah mencapai 175 orang. Produksi pada musim panen 2008-2009 mencapai 16,5 ton. Sepuluh ton berhasil dijual ke Dian Niaga, Jakarta, 1,5 ton berhasil dijual ke Riak Bumi. Total omzet dari penjualan itu mencapai Rp 517,5 juta.
Dalam tahun ini, APDS dengan dukungan AOI berusaha mengekspor madu hutan organis bersertifikat ke Sarawak dan Brunai Darussalam. Diharapkan dari keseluruhan 33 periau, total produksi mencapai sekitar 30 ton. Maka omzet akan mencapai Rp 4 miliar.
Sebuah nilai ekonomi yang tidak kecil, dan diperoleh dengan melalui proses pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis pada ekonomi rakyat. Patutkan hal ini diabaikan?
Ancaman eksternal terbesar adalah pengembangan perkebunan sawit berskala besar di sekitar TNDS. Pengalaman praktik yang telah diperlihatkan selama ini, bahwa pembangunan perkebunan sawit berskala besar telah merusak sistem ekonomi, ekologi, dan sosial budaya masyarakat setempat.
Berangkat dari adanya ancaman besar tersebut di atas, AOI menyerukan kepada semua pihak, terutama pemerintah nasional maupun daerah Kapuas Hulu untuk segera membebaskan kawasan zona penyangga Danau Sentarum dari program, dan kegiatan pembangunan yang mengancam kelestarian dan keberlanjutan kawasan um. Termasuk di dalamnya perkebunan sawit skala besar.
Rencana tata ruang dan wilayah bagi kawasan Danau Sentarum dan zona penyangganya yang menempatkan perkebunan sawit di dalamnya, adalah sebuah kebijakan politik yang tidak berpihak pada rakyat dan akan mengancam keberlanjutan pembangunan bangsa dalam banyak dimensi.
(*/Direktur Eksekutif Aliansi Organis Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: