Sekali Panen, Madu Sentarum Hasilkan Rp 4 Miliar

Senin, 9 Februari 2009

Sekali Panen, Madu Sentarum Hasilkan Rp 4 Miliar

Pontianak. Kelestarian hutan sangat berpengaruh bagi peningkatan pendapatan masyarakat dari hasil hutan non kayu. Buktinya masyarakat sekitar Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) bisa menghasilkan madu senilai Rp 4 miliar dalam sekali panen.
Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalbar di sekretariat bersama Jalan Karimata 43, Minggu (8/2).
Dalam kesempatan itu, pendamping Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Thomas Herman Sihombing mengatakan APDS pada 2007 telah berhasil menerapkan Sistem Pengawasan Mutu Internal (SPMI) bagi produsen kelompok kecil usaha madu hutan untuk memperoleh sertifikat organic dan memastikan 4,3 ton madu hutan yang dihasilkannya adalah organis.
“Saat ini anggota APDS mencapai 175 orang. Untuk panen 2008-2009 mencapai 16,5 ton.10 ton berhasil dijual ke Dian Niaga Jakarta. Sisanya ke Riak Bumi, dengan total omzet sekitar Rp 517 juta,” bebernya.
Dalam tahun ini, lanjutnya, APDS dengan dukungan Aliansi Organis Indonesia (AOI) berusaha mengekspor madu hutan organis bersertifikasi ke Malaysia dan Brunei Darussalam. “Kita harapkan dari 33 periau yang sudah terbentuk ini, akan menghasilkan produksi madu sekitar 30 ton, dengan perkiraan omzet mencapai Rp4 milyar. Sebuah niali ekonomis yang tidak kecil dan diperoleh dari proses pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi rakyat,” ungkapnya.
Sementara Dewan Perwakilan Anggota AOI, Lorens menerangkan AOI pada Februari ini telah membuat kertas posisi mengenai ancaman perluasan perkebunan sawit di sekitar TNDS yang akan mengancam kelestarian madu hutan di sekitar danau. Pengalaman praktik yang telah diperlihatkan selama ini bahwa pembangunan perkebunan kelapa sawit berskala besar telah merusak sistem ekonomi, ekologi, dan sosial budaya masyarakat setempat.
“Kami menyerukan kepada pemerintah pusat dan daerah agar segera membebaskan kawasan zona penyangga Danau Sentarum dari program yang mengancam kelestarian kawasan tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, rencana tata ruang dan wilayah bagi kawasan TNDS berikut zona penyangganya yang menempatkan perkebunan sawit di dalamnya adalah kebijakan politik. “Jelas ini tidak berpihak pada rakyat dan akan mengancam pembangunan berkelanjutan dari banyak dimensi,” tukasnya
Menurutnya sejak 2005, AOI bersama anggotanya di Kalbar telah menjalankan program pengembangan potensi madu hutan Danau Sentarum guna mewujudkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di kawasan itu. “Inisiatif ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari insiatif yang telah di rancang pada decade 80 an,” kata dia.
Dari prose situ menurutnya menghasilkan sebuah SPMI bagi produsen kelompok kecil usaha madu hutan untuk memperoleh sertifikat organis. Sistem ini menjamin secara internal pengawasan terhadap dirinya dan terdokumentasi secara tertulis yang dapat diperiksa oleh pihak lain secara objektif.
“SPMI ini telah dilegalkan oleh BIOcert (Board of Indonesian Organic Certifications) yang memberikan sertifikat organis untuk APDS dan diserahterimakan Menteri Kehutanan di Cisarua Bogor belum beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Pada awalnya organisasi ini meliputi lima periau atau organisasi tradisional pengelola madu hutan di desa Nanga Leboyan, teridiri dari periao Suda, Meresak, danau Luar Semangit dan Semalah. “Lima periau inilah yang kemudian menjadi pendiri APDS dan selanjutnya berkembang menjadi delapan.  Pengorganisasian dengan SPMI ini diharapkan bisa meliputi 33 periau yangs ekaranga da di TNDS,” tukasnya. (her)

Satu Tanggapan

  1. dimanakah kita dapat membeli madu sentarum? hub saya 081360384405 terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: