Sawit Tak Mengancam Konservasi Terpelihara

Sawit Tak Mengancam Konservasi Terpelihara

PUTUSSIBAU –Isu tak sedap menghantam perkebunan sawit di Kabupaten Kapuas Hulu. Sekelompok organisasi malah menuduh ekspansi sawit di kabupaten konservasi ini telah mengancam kelangsungan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

“Kalau memasuki kawasan TNDS itu belum ada. Itu tidak benar buktinya masih di luar kawasan TNDS. Kalaupun ada pasti kita cegah dan saya pikir bupati tidak mau mengeluarkan izin di areal konservasi,” kata Soewignyo, Kepala Balai TNDS kepada Equator, kemarin.

Menurut Soewignyo, pihaknya selama ini sudah melakukan pengecekan. Hasilnya memang belum ada perkebunan sawit yang menabrak atau masuk areal TNDS. “Jadi informasi yang mengatakan ada perkebunan yang masuk kawasan TNDS itu tak benar,” tegas Soewignyo berkali-kali.

Selama ini, kata dia, TNDS sudah mengantisipasi dengan mengecek langsung titik koordinatnya. “Tidak ada yang menabrak areal konservasi,” ujarnya.

Dijelaskannya, model pengelolaan Danau Sentarum sendiri berbasis masyarakat yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Jika selama ini anggaran pusat dan daerah tidak cukup memberikan kesejahteraan kepada masyarakat maka kita berharap ada Non Government Organization (LSM, red) lokal maupun nasional bisa membantu,” harapnya.

Tahun depan, lanjut Soewignyo, jika tidak ada halangan maka tim Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD) akan datang ke Kapuas Hulu.

“Kita tunggu saja realisasinya bersama-sama. Mudah-mudahan kehadirannya bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan khususnya,” ungkapnya.

Kekayaan TNDS, ujar Soewigyo, tak terhitung. Bahkan sudah tercium hingga ke dunia luar. Untuk kandungan karbonnya saja Danau Sentarum memiliki harga kurang lebih Rp 4 triliun atau sekitar $4 miliar.

“Danau Sentarum memiliki lahan gambut yang cukup tebal, kalau kita hitung kedalaman 3 meter saja itu penyerapan karbonnya sekitar 5500 ton per hektar, sedangkan daerah kita ini ada yang 17,8 meter ketebalan lahan gambutnya,” jelasnya.

Menurut Greeffion Kamil, Ketua Rombongan Indonesia 4X4 Expedition Kapuas Hulu-Border 2011, keberadaan perkebunan sawit di Kapuas Hulu jelas memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Meskipun kita akui kalau dampak negatif juga ditimbulkan. Namun bagaimana pun Kabupaten Kapuas Hulu memang butuh investor terutama perkebunan sawit. Saya sudah keliling Indonesia untuk melakukan off road,” katanya pada saat menyinggung masalah perkebunan sawit.

Bupati Kapuas Hulu, AM Nasir dengan tegas mengaku Pemkab Kapuas Hulu tidak akan menjerumuskan masyarakatnya. “Kehadiran perkebunan sawit bisa mendongkrak perekonomian masyarakat,” katanya.

Dia mengatakan, luas Kapuas Hulu sekitar 29.850 kilometer persegi, 56,51 persen di antaranya sudah dialokasikan untuk kawasan konservasi. Jauh sebelum daerah lain di Indonesia mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Konservasi, Kapuas Hulu sudah berkomitmen.

“Lebih separuh sudah kami alokasikan sebagai areal yang dilindungi. Oleh karenanya izinkan kami untuk membangun Kapuas Hulu dengan mendatangkan investor perkebunan sawit ke Kapuas Hulu,” pungkasnya. (lil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: