Sawit Kalbar Makin Meluas

Senin, 12 April 2010

Sawit Kalbar Makin Meluas

Perkebunan kelapa sawit salah satu komiditi hasil bumi andalan Kalbar. (Dokumen Equator)

Magnet sawit begitu kuat. Ekonomi terdorong, lahan makin meluas. Pemprov tetapkan target. Belanda terusik soal minyak nabati?

PONTIANAK. Investasi dan minat usaha pada sektor perkebunan sawit di Kalbar begitu cepat berkembang. Dalam setahun saja terjadi pembukaan areal lahan seluas 70 ribu hektar. Hal ini dipastikan terus bertambah dan akan melampaui target yang ditetapkan provinsi seluas 1,5 juta hektar pada 2025.

“Perluasan areal sawit memang cukup tinggi,” aku Idwar Hanis, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kalbar ditemui di Function Hall 2 Hotel Kapuas Palace, baru-baru ini.

Peningkatan yang cukup tajam terhadap perkembangan areal perkebunan sawit tersebut, dapat dilihat sejak dua tahun lalu. Pada 2008, luas areal perkebunan sawit hanya sekitar 480 ribu hektar. Tetapi pada akhir 2009 sudah melonjak menjadi sekitar 550 ribu hektar.

Idwar menjelaskan, kewenangan provinsi dalam perkembangan perkebunan ini, sifatnya hanya memantau untuk peruntukan komoditas-komoditas yang diperlukan. Bila salah satu kabupaten cenderung mengembangkan satu komoditas saja seperti sawit, pemerintah hanya memberikan peringatan. “Kalau perluasan arealnya melebihi target Pemprov Kalbar 1,5 juta hektar hingga 2025, kita hanya memberikan peringatan,” kata Idwar.

Selebihnya, tambah Idwar, tergantung bupati yang bersangkutan, sebagai institusi otoritas yang memberikan izin. “Kita tidak bisa mencabut izin yang telah diberikan bupati kepada pihak perusahaan,” ujarnya.

Pemprov Kalbar hanya bisa memberikan format mengenai pengembangan perkebunan itu, seperti target luas arealnya, di ruang mana saja dibolehkan untuk mengembangkan perkebunan dan lainnya. “Karena izin perkebunan tentunya harus di ruang-ruang yang telah diperbolehkan. Kita hanya memberikan koridor pembangunan perkebunan masing-masing daerah,” kata Idwar.

Demikian pula terkait sistem pembukaan lahan yang digunakan, karena pengembangan perkebunan ini tentunya memiliki konsekuensi teknis pada pembukaan lahan. “Hal yang bersifat teknis seperti ini hanya bersifat input atau rekomendasi kepada daerah,” ujar Idwar.

Tetapi, Idwar menjelaskan, kalau bupati tentunya tidak mudah dalam memberikan izin kepada perusahaan untuk pengembangan perkebunan di daerahnya. “Karena ada proses-proses yang harus dilalui,” terangnya.

Terkait pengawasannya, tentunya dapat dilakukan masyarakat dengan menyampaikan atau melaporkan kalau suatu perusahaan belum memenuhi dokumen-dokumen sebagai syarat untuk membangun perkebunan. “Kontrolnya dari masyarakat,” kata Idwar.

Kendati demikian, tambah Idwar, tentunya tidak bisa terlalu cepat mengambil kesimpulan kalau suatu perusahaan belum memiliki amdal. “Karena proses amdal iu cukup panjang dan juga harus sharing dulu dengan provinsi, kemungkinan masih dalam proses,” jelasnya.

Kecuali sebelum memiliki dokumen amdal, perusahaan sudah melakukan pengerjaan pembangunan perkebunan. “Bila belum memiliki beberapa dokumen, tetapi sudah melakukan pembangunan, itu jelas salah,” terang Idwar.

Sementara itu, kendati Pemprov Kalbar telah memberikan batas perluasan areal perkebunan sawit sekitar 1,5 juta hektar pada 2025, masih saja memunculkan kekhawatiran dari berbagai pihak kalau perkembangan perkebunan sawit tidak akan dapat dikendalikan. Sawit memang banyak menyerap tenaga kerja dan menanggulangi pengangguran. Taraf ekonomi masyarakat juga ikut terdongkrak.

Menurut Anggota Milieudefensie, Friends of The Earth, Netherlands (Walhi-nya Belanda), Claudia Thiele di Pontianak beberapa waktu, cukup memanfaatkan sisa-sisa nabati untuk dijadikan sumber energi. “Tentunya berbeda bila menggunakan minyak nabati yang membutuhkan ekspansi lahan,” katanya.

Minyak nabati yang dimaksudkannya ini tidak hanya dari Sawit, tetapi juga dari tanaman lainnya yang dapat menghasilkan minyak nabati. “Banyak dampak yang dimunculkan bila menggunakan minyak nabati sebagai sumber energi,” ujar Claudia.

Terkait pengembangan energi nabati ini, sudah lebih dari satu dekade dilakukan Uni Eropa, terutama penggunaan biomassa untuk bahan bakar dan pembangkit listrik. Belanda menyadari, untuk mencapai ambisi tersebut, harus bergantung pada impor, karena potensi sumber-sumber biomassa di dalam negerinya terbatas. Pada 2030 diperkirakan 60 persen dari pasokan energi nabati harus mengimpor.

Dalam skenario penyediaan energi masa depan di Belanda, biomassa harus menyediakan sebagian besar tenaga listrik “hijau” pada 2020. Untuk perluasan sasaran 10 persen energi terbarukan di bidang transportasi, skenario masa depan Belanda bahkan akan menuju sasaran 20 persen wahana transportasi akan memakai bahan bakar nabati pada 2020.

Perusahaan minyak sawit dan energi sangat berminat untuk melayani pasar baru yang terjamin ini. Alhasil, areal perkebunan sawit meningkat pesat di negara-negara tropis, seperti Indonesia khususnya Kalbar. Kilang-kilang besar pun dibangun di pelabuhan seperti di Singapura dan Rotterdam, untuk mengubah minyak nabati menjadi bahan bakar nabati.

Permintaan dan impor minyak sawit Belanda akan meningkat tinggi ketika kilang-kilang dari perusahaan seperti Neste Oil Rotterdam dan Clean Energy Zwijndrecht mulai beroperasi dan ketika minyak sawit digunakan perusahaan-perusahaan energi sebagai salah satu bahan bakar.

Direktur SDM PTPN XIII, Ir Wagio Ripto Sumarto MM beberapa waktu lalu menjelaskan soal keberatan terhadap perkebunan sawit sangat tak beralasan. Sebab patut dicurigai terdapat persaingan industri minyak nabati. “Coba saja dipikirkan dampak sawit. Akan dikemanakan tenaga kerja kita jika tak ada perusahaan sawit. Apakah belum cukup kita dijajah belanda 350 tahun?,” ujar Wagio seraya menjelaskan sawit dari sisi lingkungan tak bermasalah, apalagi dengan diterapkannya Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). (dik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: