Pengusaha Sawit Bantah Isu Negatif

Jumat, 12 Februari 2010

Pengusaha Sawit Bantah Isu Negatif

Seimbangkan Aspek Ekonomi, Ekologi dan Sosial

PONTIANAK. Perkebunan kelapa sawit selalu dicap hanya memerhatikan aspek ekonomi dengan melupakan aspek ekologi dan sosial. Isu negatif yang telah lama beredar tersebut dibantah para pengusaha perkebunan sawit tersebut.

“Kami tidaklah demikian adanya,” tegas Hasjim Oemar, CEO PT Cipta Usaha Sejati (CUS), salah satu perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Kayong Utara, Kalbar.

Hal tersebut disampaikannya ketika Ekspose Program dan Pengesahan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman antara Flora Fauna Internasinal (FFI) dan Internasional Animal Rescue (IAR) dengan PT CUS di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (9/2).

Kegiatan Ekspose Program dan Mou tersebut dilaksanakan di hadapan Gubernur Kalbar Drs Cornelis MH beserta jajarannya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) serta Pemkab Kayong Utara.

Dalam kesempatan tersebut Hasjim menerangkan, isu negatif yang sering beredar tentang perkebunan sawit di antaranya monokultur kebun sawit, lingkungan hidup, kerentanan sosial dan tentang kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perkebunan.

“Untuk menghilangkan isu tersebut, tentu kami dan seluruh anggota yang tergabung dalam Gapki harus mampu membuktikan dengan karya nyata di lapangan bahwa hal tersebut tidak benar, karena kami memiliki sensitifitas yang cukup terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitar kami,” terang Hasjim.

Dia menjelaskan, pembangunan dan pengelolaan usaha perkebunan sawit merupakan suatu kegiatan berjangka panjang dengan modal besar serta membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pekerja yang sangat banyak.

“Di samping tentunya kemampu menguasai teknologi dan mesin pendukung terkait dengan proses peningkatan kualitas produksi,” kata Hasjim.

Dengan kondisi tersebut, tambah dia, mengharuskan para pengusaha perkebunan sawit mempersiapkan kerangka dan fondasi kerja sebagai pedoman mencapai tujuan perusahaan dalam kurun lima tahun ke depan. “Hal itu kami tuangkan dalam bentuk Garis Besar halua Perusahaan (GBHP),” ujar Hasjim.

Karena perusahaan perkebunan sawit selalu bergeluat dan bersentuhan dengan sumberdaya alam dan masyarakat, kata Hasjim, maka harus memberikan perhatian yang seimbang. “Antara aspek ekonomi, ekologi dan sosial dalam tiap gerak dan langkah kami menuju capaian target perusahaan yang kami tetapkan,” terangnya.

Untuk aspek ekonomi, kata Hasjim, perusahaan mencoba melakukan tahapan kegiatan pembangunan perkebunan sawit yang secara teknis dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar.

“Melalui pemilihan bibit unggul yang tepat, pemupukan dan pemeliharaan yang dilakukan secara profesional oleh tenaga ahli dan berpengalaman di bidangnya,” paparnya.

Sementara untuk aspek ekologi atau lingkungan hidup, terang Hasjim, perusahaan mencoba melakukan Program Pengelolaan Kawasan Konservasi yang di dalam pelaksanaannya secara integratif bekerjasama dengan pihak yang berkompeten.

Di antaranya, tambah dia,  dengan FFI, IAR serta bimbingan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Kegiatannya di antaranya inventarisasi kondisi dan potensi sumberdaya alam (biodiversity) melalui survei High Convervation Value (HCT) dan inventarisasi potensi fauna endemik lokal, khususnya orangutan,” terang Hasjim

Hal tersebut menjelaskan kepada beberapa pihak kalau perusahaan berniat belajar bersama untuk mengelola kawasan konservasi serta fauna endemik, sebagai bagian dari ekosistem di sekitar wilayah perkebunan sawit.

“Ini untuk membangun keseimbangan alam, antara vegetasi hutan alam tropika basah (tropical rain forest) dengan tanaman exsort yaitu kepala sawit sebagai komoditas ekonomi usaha kami,” papar Hasjim.

Dia menerangkan, areal yang dicadangkan untuk menjadi kawasan konservasi tersebut seluas sekitar 10 ribu hektar atau sekitar 22 persen dari perkebunan sawit.

“Perlu juga kami beritahukan, bahwa perusahaan kami juga sudah tercatat sebagai anggota tetap RSPO serta telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008 tentang sistem manajemen mutu dan ISO 14001:2004 tentang sistem manajemen lingkungan,” terang Hasjim.

Sedangkan untuk mengelola aspek sosial, kata Hasjim, perusahaan mencoba melakukannya melalui program Community Developme nt dengan titik berat pada pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Program Ketahanan Pangan.

“Kegiatan ini dilakukan sejak setengah tahun terakhir dan masih dalam proses mencari bentuk yang tepatdalam membangun dukungan dan interaksi sosial sebagai upaya untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat di sekitar wilayah usaha kami,” pungkasnya. (dik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: