HHBK Potensi Alternatif Hutan Daerah

Senin, 27 Desember 2010

HHBK Potensi Alternatif Hutan Daerah

PUTUSSIBAU –Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah menyusun strategi Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai alternatif sumber pangan, sumber obat-obatan, penghasil serat, penghasil getah-getahan dan lainnya. Kebijakan strategi ini diambil agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Juga untuk mendukung kebijakan nasional dalam mengembangkan dan meningkatkan produksi hasil hutan bukan kayu. Serta tersedianya acuan mulai dari perencanaan sampai pasca panen bagi para pelaku usaha, para pihak dan masyarakat luas,” ungkap H. Hasan M, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu.

Dikatakan Hasan, sudah sejak lama, masyarakat sekitar hutan menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Belakangan sejak masuknya investasi untuk mengeksploitasi kawasan khususnya kayu, masyarakat seakan terbius dan lupa bahwa hutan ternyata tidak hanya kayu saja. Namun banyak hasil hutan bukan kayu dapat dimanfaatkan dan memiliki pangsa pasar yang bagus untuk dikelola.

“Padahal banyak potensi lain selain kayu yang terhimpun di dalam rimba belantara,” katanya.

Hasan menjelaskan Sumber Daya Hutan (SDH) mempunyai potensi multi fungsi yang dapat memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan sosial bagi kesejahteraan umat manusia. Manfaat tersebut katanya bukan hanya berasal dari Hasil Hutan Kayu (HHK) seperti yang terjadi saat ini, melainkan juga manfaat Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan jasa lingkungan (pemanfaatan aliran air, pemanfaatan air, wisata alam, perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan dan perlindungan). Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pengelolaan Pemanfaatan HHBK) tercantum pada Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, yaitu pasal 26 (pemungutan HHBK pada hutan lindung), pasal 23 dan 26 (pemanfaatan HHBK pada hutan produksi). Demikian juga halnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007, upaya optimalisasi HHBK juga terdapat pada pasal 28 (Pemungutan HHBK pada hutan lindung), pasal 43 dan 44 (Pemanfaatan HHBK dalam hutan alam dan tanaman pada hutan produksi). “Paradigma baru sektor kehutanan memandang hutan sebagai sistem sumber daya yang bersifat multi fungsi, multi guna dan membuat multi kepentingan serta pemanfaatannya diarahkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” tutur Bimbing.

“Paradigma ini makin menyadarkan kita bahwa produk HHBK merupakan salah satu sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan paling bersinggungan dengan masyarakat sekitar hutan,” tandasnya.

HHBK terbukti dapat memberikan dampak pada peningkatan penghasilan masyarakat sekitar hutan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi penambahan devisa negara. Secara ekologis HHBK tidak memiliki perbedaan fungsi dengan hasil hutan kayu, karena sebagian besar HHBK merupakan bagian dari pohon. (lil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: