Ekosistem TNDS Terancam Ekspansi Sawit

Minggu, 6 Maret 2011

Ekosistem TNDS Terancam Ekspansi Sawit

Pontianak. Ekosistem di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) Kabupaten Kapuas Hulu kian memburuk akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di sekitar areal taman nasional itu, sejak tiga tahun silam.

“Tiap tahun terjadi sedimentasi (endapan, red) lumpur sebanyak 5 cm,” ujar Budi Suriyansyah, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNDS kepada sejumlah wartawan usai memberikan materi dalam kegiatan Workshop TNDS yang dilaksanakan Front Perjuangan Rakyat (FPR) Kalbar di Rumah Mimpi Taman Gita Nanda, Pontinak, Sabtu (05/3).

Tingginya tingkat pembukaan lahan perkebunan sawit di luar areal atau di wilayah perhuluan TNDS diyakini sebagai penyebab terjadinya sedimentasi tersebut. Data dari Balai TNDS, sedikitnya ada delapan areal perkebunan sawit yang beroperasi di sekitar wilayah danau itu.

“Umumnya delapan areal perkebunan yang dibuka itu adalah milik PT Sinar Mas. Ada yang sudah ditanam, ada juga yang masih dalam tahap penyemaian,” kata Budi.

Menurutnya, sedimentasi lumpur tersebut sudah terjadi sejak tahun 2008 seiring dengan dimulainya perambahan hutan untuk pembukaan lahan perkebunan sawit. “Sebagian di antaranya sudah berjarak tinggal 12 km dari kawasan TNDS,” ulasnya.

Berapa luas hutan penyangga TNDS, pria kelahiran Pontianak itu mengaku tidak bisa dipastikan secara luasan. Buffer zone tergantung karakteristik hutan penyangga, terutama ketahanannya terhadap kerusakan lingkungan. Jika hutan penyangga kurang tahan terhadap kerusakan, maka diperlukan luasan yang benar-benar aman. “Karena itu, kita sudah mengusulkan ke Kementerian Kehutanan untuk menambah luasan buffer zone di sekitar kawasan TNDS,” akunnya.

Danau Sentarum berjarak sekitar 700 km dari muara Sungai Kapuas (Pontianak). Secara geografis terletak antara 00°45’ – 01°02’ lintang utara dan 111°55’ – 112°26’ bujur timur.

TNDS merupakan salah satu ekosistem hutan rawa tergenang (flooded swam forest) terluas di Indonesia bahkan di Asia. Berdasarkan SK Menhut Nomor 34/Kpts-II/1999 TNDS memiliki luas sekitar 132.000 hektar.

TNDS terdiri dari beberapa buah danau, masing-masing Danau Seriang, Genali, Belidak, Penyumbung, Luar, Secawan, dan Danau Peranak Burung. Danau-danau ini terhubung oleh kawasan perairan atau lahan basah seluas 120 ribu hektar yang terendam 8 sampai 10 bulan setiap tahun.

Secara administrasi TNDS mencakup 7 kecamatan, yaitu Kecamatan Batang Lupar, Badau, Selimbau, Suhaid, Embau, Empanang dan Kecamatan Embaloh Hilir. Danau-danau ini terhubung oleh beberapa batang anak sungai, masing-masing Sungai Tawang, Seriang, Leboyan, dan Sungai Labian yang terhubung ke Sungai Kapuas melalui Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Tawang.

Kekayaan jenis flora yang terdapat di kawasan TNDS yang tercatat hingga saat ini berjumlah 829 jenis, tergolong dalam 97 familia. Dari jumlah tersebut 33 jenis merupakan jenis endemik dan 10 jenis merupakan jenis baru. Anggrek 154 Jenis.

Menurut Budi, jika sedimentasi lumpur di TNDS terus memburuk, maka dampaknya terhadap kerusakan ekosistem di sana akan sangat besar. Endapan lumpur yang tinggi membuat TNDS tidak bisa menampung air hujan, sehingga jika curah hujan tinggi, air akan meluap ke Sungai Kapuas, sehingga seluruh DAS Kapuas akan terkena banjir besar. ”Jika terjadi kekeringan, aliran Sungai Kapuas juga akan ikut kering,” yakinnya.

Tak hanya itu, sekitar 20 ribu masyarakat yang berdiam di sekitar TNDS juga akan terancam secara ekonomi. Mata pencarian mereka sebagai nelayan ikan air tawar maupun sebagai pembuat madu juga akan hilang.

”Padahal pendapat masyarakat dari kekayaan alam TNDS, seperti ikan dan madu mencapai Rp 20 miliar per tahun. Angka ini belum termasuk ekowisata dan potensi alam lainnya,” pungkasnya sembari mengatakan masalah sedimentasi ini sudah dilaporkan ke Kementerian Kehutanan, khususnya bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Direktur Jendral (Dirjen) PHKA Kemenhut, Ir Darori belum bisa memberikan komentar terkait persoalan ini. ”Saya belum dapat laporan. Kalau ada (laporan, red), diteliti dulu oleh Badan Litbang. Jadi belum dapat berkomentar,” ujar Darori dalam pesan singkatnya yang dikirimkan ke Equator, kemarin.

Meski demikian, Darori memastikan pihaknya tidak akan tinggal diam jika informasi itu benar. ”Pembukaan kebun yang melanggar (aturan kehutanan, red), akan ditindak. Tinggal menunggu waktu saja,” tuntasnya. (bdu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: