Polisi rusak 19 dompeng PETI di sungai Kualan, Ketapang

Polisi rusak 19 dompeng PETI di sungai Kualan, Ketapang

 

Sumber : http://pontianak.tribunnews.com/read/artikel/19646
Personel Polres Ketapang melakukan penertiban PETI di Kuatan Tengah, Simpang Hulu, Ketapang, beberapa waktu lalu.

KETAPANG, TRIBUN – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Loko, Desa Kualan Tengah, Kecamatan Simpang Hulu, diam-diam masih marak. Akibatnya, Sungai Kualan terancam tercemar merkusi penambang, serta mengalami kerusakan fisik yang mulai parah.

Kapolres Ketapang, AKBP Badya Wijaya, melalui Kasat Reskrim Temangganro, Jumat (4/2/11), menjelaskan, kondisi Sungai Kualan kini mengkhawatirkan, dengan debit air berkurang dan sungai yang mulai mendangkal.

“Kami melihat kondisi sungai itu mulai mendangkal. Tak jarang speed boat yang melintas selalu tersangkut. Selain itu berdasarkan uji lab Badan Lingkungan Hidup (BLH), air Sungai Kualan sudah tercemar, namun belum diketahui berapa kadarnya,” ujar Temangganro.

Puluhan personil polisi bersenjata lengkap dari Polres Ketapang, bersama sejumlah perwakilan instansi terkait dari Pemkab Ketapang, melakukan penertiban di sepanjang Sungai Kualan, 26-28 Januari lalu.

Diperlukan waktu sekitar 10 jam untuk menjangkau lokasi di Loko, Desa Kualan Tengah. Petugas melintasi jalan darat dan jalur sungai. Dalam operasi tersebut, ditemukan 19 unit dompeng, puluhan batang paralon, dan puluhan meter kain jaring emas.

“Operasi ini kami lakukan berdasarkan informasi masyarakat yang semakin resah dengan aktivitas PETI. Informasinya, pelakunya oknum masyarakat dari Sekadau dan Landak,” tutur Kasat.

Karena medan yang sulit, polisi hanya mengumpulkan sejumlah barang bukti berupa satu unit kompresor dan perlengkapan PETI lainnya. Sedangkan mesin dompeng dan paralon tidak dibawa, melaikan dirusak agar para pelaku tidak bisa bekerja lagi.

Tidak ada tersangka dalam peristiwa itu, lantaran perjalanan yang jauh dengan medan sulit menyebabkan operasi tersebut tercium pelaku.

“Kami melihat ada beberapa mesin, di antaranya nampak seperti baru digunakan,” jelasnya.

Para penambang melakukan aktivitasnya di pesisir Sungai Kualan. Tindakan ini menyebabkan tanah, pasir, dan limbah air sisa penambangan mencemari lingkungan dan menimbulkan pendangkalan pada sungai.

“Masyarakat di sana sudah beberapa kali memperingatkan penambang, karena terganggu dalam hal transportasi. Beberapa di antara masyarakat yang tinggal di hulu kesulitan mendistribusikan hasil tani mereka,” katanya.

***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: