Dibalik Nikmatnya Minyak Sawit

Pontianak Post, 19 Januari 2011.

 

Di Balik Nikmatnya Minyak Sawit.

 

*Penulis, Direktur Eksekutif WALHI Kalbar.

Minyak sawit memeang memberi kenikmatan bagi semua orang, namun persoalan dengan rasa nikmat itu, pelanggaran HAM dan penghancuran lingkungan terjadi ; tegakan hutan hujan dengan gambut di konversi secara besar-besaran. Yang dikejar hanya semata-mata kepentingan dan keuntungan ekonomi.

Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia mendapat peringkat dua setelah batu bara, itu artinya sawit termasuk komoditi andalan Indonesia dalam ekspor komuditi ke luar negeri, dengan tujuan ekspor seperti Eropa, AS, India, China dan Singapura. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini mencapai

9,1 juta hektar dan target yang akan diwujudkan oleh pemerintah melalui Departemen Pertanian hingga tahun 2020 adalah 15 juta Ha dengan target produksi Crude Palm Oil hingga 40 juta Ton CPO/tahun. Dengan luasan perkebunan saat ini, Indonesia memproduksi 21 juta ton CPO (Sawit Watch, 2010).

Posisi Indonesia saat ini adalah negara produsen CPO nomor satu di dunia disusul oleh Malaysia. Karena itu, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian terus melakukan kampanye “putuh” terkait dengan perusahaan kebun yang beroperasi di Indonesia yang dituduh melanggar Hak Asasi Manusia dan merusak hutan hingga penyebab pemanasan global.

Apa yang dilakukan pemerintah merupakan bagian dari strategi global untuk pemenuhaan target produksi untuk kepentingan pasar. Pemerintah sangat resistan untuk melawan pihak-pihak civil soceity yang menyebutkan perusahaan kebun sawit Indonesia banyak melanggar HAM dan merusak lingkungan. “Emas”

hijau asal Afrika ini seperti jamur dimusim hujan keberadaannya, dan memberi keuntungan besar bagi para pengusaha dalam negeri sampai manca negara.

Negara dapat keuntungan dari pajak  tanah dan ekspor, pengusaha sawit dapat keuntungan dari penjualan CPO, Bank dapat keuntungan dari penjualan hasil turunan produk minyak sawit. Sedangkan Masyarakat Adat, petani plasma dan buruh kebun di Indonesia, Dapat untung? Seperti apa nasib mereka? Dari yang terkaya sampai ke petani miskin di Indonesia ada dalam bisnis persawitan ini. Oleh karena itu sangat menarik untuk mengikuti perkembangannya.

Di balik nikmatnya minyaks awit ini, terdapat banyak persoalan yang menimpa masyarakat Adat, petani plasma, buruh perkebunan dan bahkan lingkungan hidup; setiap tahun 400,100 hektar hutan dan lahan dibuka dan ditanami sawit oleh 33 Group perusahaan perkebunan sawit yang sebagian besar didanai bank-bank luar negeri.

Hampir disetiap perkebunan sawit terdapat masalah yang menimpa petani plasma misalnya, pembagian plasma yang tidak adil, tidak adanya pemberdayaan terhadap petani sehingga kebun kurang menghasilkan, harga TBS yang tidak memadai di tingkat petani.

WALHI mencatat, perluasan perkebunan sawit skala besar di Indonesia berakibat pada konflik dengan masyarakat yang berbuntut pada korban jiwa ditingkat masyarakat, ada 3 orang warga masyarakat yang gugur ketika mempertahankan tanah mereka dari penjarahaan perusahaan di sepanjang tahun 2010 dan ditahun yang sama 125 warga masyarakat dikriminalkan demi kepentingan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit. Ini meningkat dari tahun 2009 dimana kriminalisasi di tahun 2010 terjadi di 9 provinsi, sementara total konflik agraria di tahun 2010 meningkat tajam dari tahun

2009 yang sekitar 116 konflik menjadi 660 konflik agraria di 16 propinsi meliputi propinsi Kalbar, Kalteng, Kaltim, Sulteng, Sultra, Sulsel, Sumsel, Sumbar, bengkulu, Jambi, Riau, Babel, Sumut, Aceh, Papua dan papua Barat.

Sementara terkait dengan memburuknya kondisi lingkungan, industri kelapa sawit memberikan kontribusi bagi tercemarnya 21 sungai di 10 propinsi di Indonesia.

Bahkan data lain menunjukan terdapat 630 komunitas mempunyai kasus diperkebunan kelapa sawit di 17 propinsi (sawit watch, 2010) dan terdapat

106 kasus kriminalisasi terhadap petani (PIL-Net,2010). Kondisi serupa juga terjadi pada buruh kebun, mereka selalu mengeluh dengan murahnya upah kerja dimana satu hari mereka hanya mendapat upah Rp 33.500,- saja untuk pekerja harian lepas padahal mereka harus bekerja dengan tetesan keringat, tidak adanya tunjangan kesehatan, kurangnya perlindungan terhadap pekerja dalam bekerja misalnya tidak adanya fasilitas masker pada saat menyemprot pestisida, tidak adanya kepastian kerja dengan sistem kontrak.

Undang-undang perkebunan noor 18 Tahun 2004 serta kebijakan lainnya yang berhubungand engan itu sebagai motor usaha di bidang perkebunan belum mampu menjawab permasalahaan yang dihadapi oleh petani sawit di Indonesia.

Sehingga pemerintah perlu melakukan perlindungan terhadap petani plasma dan buruh harian lepas diperkebunan kelapa sawit, karena mereka juga telah berkontribusi besar dal;am menyumbang devisa Negara dari sektor ini.

Persoalan lain adalah penafsiran terhadap hak menguasai Negara selama ini, bahwa hak menguasai Negara ditafsirkan sebagai ‘ hak menguasai pemerintah sehingga hak-hak masyarakat Adat dan masyarakat lokal lewat penafsiran tersebut sangat diabaikan. Penghapusan pengakuan bersyarat oleh Negara terhadap masyarakat Adat/ lokal yang menjadi tempat usaha perkebunan.

Sehingga dengan demikian telah membatasi kemampuan Masyarakat Adat / lokal dalam menjalankan hak atas lahan dan sumberdaya alamnya. Disamping itu perlu melihat kondisi sosial, politik, jangan sampai UUPA yang sudah banyak memberikan perlindungan ruang bagi rakyat dalam memanfaatkan sumberdaya alam menjadi dipersempit.

Melihat rentetean peristiwa yang terjadi baik yang menimpa petani plasma, buruh kebun dan masyarakat Adat tempat ekspansi masih diperlukan seperti “anak” tiri” dalam prakteknya. Oleh karena itu perlu kemamuan politik dari pemerintah untuk mengangkat dan memperbaiki nasib masyarakat juga nasib hutan alam Indonesia.

***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: