Kenapa Perlunya Pengelolaan DAS Yang Adil & Lestari

Kenapa Perlunya Pengelolaan DAS Yang Adil & Lestari

Pendahuluan

Di Kalimantan Barat sendiri, terdapat 3 daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi urat nadi kehidupan dan pembangunan propinsi Kalimantan Barat dan masing – masing DAS bermuara di laut. Ketiga DAS yang dimaksud terdiri dari:

  1. DAS Kapuas, yang memebentang dari Kapuas Hulu district sampai ke Kota Pontianak yang melintasi 5 kabupaten lainnya (Sintang District, Melawi District, Sekadau District, Sanggau District, Landak District and Pontianak District).
  2. DAS Sambas merupakan wilayah yang membentang di Kabupaten Sambas
  3. DAS Pawan yang berada di Kabupaten Ketapang. Ketiga

Luas wilayah hulu (upstream) sungai di kalimantan barat mencapai 3,549,117.26 ha (24.15%) dari total luas pemanfaatan kawasan hutan di propinsi kalimantan Barat.

DAS Kapuas memiliki kekhususan tersendiri dibandingkan DAS lainnya di Kalimantan Barat. Selain melalui 7 district dan 1 Kota, DAS Kapuas merupakan muara dari 9 sub-DAS yang ada 8 wilayah tersebut dimana 9 sub – DAS yang dimaksud sebagai berikut:

  1. Sub DAS Kapuas Hulu (Kapuas Hulu district);
  2. Sentarum (Kapuas Hulu district);
  3. Silat/Manday (Kapuas Hulu district);
  4. Sub DAS Melawi (Melawi & Sintang District);
  5. Sub DAS Ketungau (Sintang District);
  6. Sub DAS Sekayam (Sanggau District);
  7. Sub Das Sekadau (Sekadau District);
  8. Sub Das Landak (Landak District)
  9. Sub DAS Mendawak (Pontianak, Sanggau, Ketapang District).

Luas areal DAS Kapuas dan Sub DAS Kapuas mencapai 10,040,646 ha atau 69,32% dari total luas areal 3 DAS di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut menunjukkan peran penting dari keberadaan DAS kapuas sebagai penunjang kehidupan masyarakat yang ada di Kalimantan Barat dimana terdapat 1,715,310 jiwa yang bergantung hidupnya kepada keberlanjutan DAS Kapuas. Ketergantungan masyarakat disekitar DAS Kapuas meliputi:

  1. Sumber Air Bersih;
  2. Transportasi;
  3. Sumber income (livelihood) lainnya seperti usaha perikanan;

60% daerah aliran sungai (watershed) di Kalimantan Barat mengalami krisis yang terjadi sebagai akibat pembukaan dan pengembangan kawasan watershed secara eksploitatif. Kerusakan tersebut berasal dari berbagai aktifitas seperti:

  1. Penambang Emas Tanpa Izin (illegal mining) yang menggunakan mercury;
  2. Logging;
  3. Pembukaan kawasan untuk perkebunan kelapa sawit;
  4. Komplek pemukiman di kota besar;
  5. Aktivitas industri lainnya.

Dipengaruhi oleh berbagai bencana diberbagai wilayah Indonesia khususnya di sekitar DAS, Pemerintah Indonesia yang terdiri dari 8 kementrian membangun kesepakatan untuk mengupayakan adanya pengelolaan air (DAS) yang efektif dalam penanggulangan bencana. Adapun bencana yang akan diantisipasi antara lain:

  1. Banjir;
  2. Tanah longsor;
  3. Intrusi air laut
  4. Kekeringan.

Pengelolaan Air yang efektif dimaksud adalah adanya pengelolaan DAS yang berdasarkan ekosistem DAS dengan melihat nilai–nilai kearifan tradisional (traditional wisdom) yang ada di masyarakat dalam upaya penyelamatan dan pengelolaan lingkungan yang bersahabat.

Berdasarkan kondisi diatas Masyarakat – NGO Nasional (Sawit Watch, Walhi, WWF-Indonesia) dan LSM di Kalimantan Barat serta Institusi pemerintah – Dunia Usaha menilai penting untuk berpartisipasi dan terlibat aktif dalam pengembangan konsep pengelolaan DAS Kapuas yang adil dan lestari.

Perlunya Inisiatif Lokal di Sekitar Wilayah Konservasi

Di Kalimantan Barat terdapat 2 wilayah konservasi yang merupakan bentangan dari pegunungan secara langsung dan tanpa terpisahkan yang terdapat di 2 wilayah administrasi yang berbeda, diantaranya pada jalur dan bentangan Taman Nasional Danau Sentarum – Taman Nasional Betung Kerihun serta Taman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka. Untuk itu kita dapat melakukan suatu inisiatif dan dan identifikasi di dalam masyarakat ekosistem hutan dan berada di Pegunungan Kapuas Hulu serta Pegunungan Schwanerr.

Secara umum vegetasi dan hidrologi di kawasan DAS Kapuas ialah Vegetasi alami tidak terlepas dari perpaduan topografi, ketinggian dari permukaan laut, geologi, tanah, iklim dan pasokan air (curah hujan). Kalimantan terletak di garis equator, dengan panas sepanjang tahun dan daerah terlembab yang dapat mendorong timbulnya penggolongan dan keragaman jenis yang tinggi. Pada umumnya di sekitarDAS Kapuas memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Tingkat endemisme flora juga cukup tinggi sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya mempunyai 59 marga unik dari 1.500 marga. Selain itu, juga kaya akan pohon buah-buahan yang amat penting bagi kehidupan di hutan, diantaranya Mangga (Mangifera), Durian (Durio), Baccaurea, Sukun dan Nangka (Artocarpus), Rambutan (Nephelium). Ada juga jenis palem-paleman. Yang banyak di gunakan oleh masyarakat sebagai makanan, kerajinan tangan, bahan bangunan, obat-obatan, racun ikan, bahan pebungkus dan kebutuhan ritual.

Sistem Hidrologi, dengan karakteristik wilayahnya mempunyai Bulan basah antara 9 – 12 bulan dan curah hujan yang cukup tinggi antara 3000 –  4500 mm/tahun. Menjadikan DAS Kapuas ini sebagai kantung dan penentu dari keberadaan Provinsi Kalbar dan kawasan lainnya yang bermuara di DAS Kapuas. Dengan kondisi ini, maka di wilayah perhuluan DAS Kapuas dijadikan suatu kawasan ’Resapan Air’. Disini artinya kawasan tersebut mempunyai pengaruh penting terhadap keberdaan Provinsi Kalbar dan Pulau Borneo.

  1. Vegetasi di Sungai Labian & Labian termasuk ke dalam jenis vegetasi yang berada di Kawasan Danau Sentarum & Pegunungan Kapuas Hulu, dimana sebagian besar terdiri atas berbagai spesies tanaman dan semak belukar yang mempunyai kemampuan beradaptasi di daerah yang hamper selalu tergenang air sepanjang tahun. Menurut Giesen (1987) dalam Anshari dkk (2002 : 8), menyebutkan ada beberapa tipe-tipe hutan di dalam Taman Nasional Danau sentarum dapat dikelompokan sebagai berikut : Hutan rawa Putat, Hutan Rawa Kawi, Hutan Rawa Rengas, Hutan Rawa Tempurau, Hutan Rawa Gambut Kelansai – Kerintak, Hutan Kerangas, Hutan bekas ladang, dan  Hutan Meranti.

Sistem Hidrologi di sekitar kawasan ini merupakan daereah tangkapan air yang berada di bufferzone Dantaru Sentarum, dimana pada umunya berupa lahan gambut dengan potensi penyimpanan air mencapai 12 kali berat keringnya. Sehingga mempunyai fungsi sebagai pemelihara dan penyeimbang DAS Kapuas.

  1. Berdasarkan Management dalam pengelolaan Pegunungan Schwaneer yang juga masuk ke dalam sekitar Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya. Menurut Steenis analisis Citra Landsat ada 3 tipe ekosistem
    • Tipe Zona Tropika; tersebar di seluruh areal < 1.000 mdpl seluas 115.670,64 Ha (63,87%) dari luas kawasan, yang mencakup hutan primer ± 81.188,7 Ha, hutan bekas tebangan ± 22.737 Ha, non hutan ± 5.595,22 Ha;
    • Tipe Ekosistem Pegunungan Bawah; tersebar di ketinggian 1.000 – 1.500 mdpl seluas 58.489,26 Ha (32,30%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 45.637,8 Ha, hutan bekas tebangan ± 9.587,07%, non hutan ± 2.340,03 Ha;
    • Tipe Pegunungan Atas; menyebar di ketinggian > 1.500 mdpl seluas 6.930 Ha (3,83%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 6.420, 93 Ha, bekas hutan tebangan ± 299,81 Ha.

Dengan sistem hidrologi di sekitar Pegunungan Shwaneer sebagai daerah tangkapan air dan persediaan air serta kawasan perlindungan tata air untuk DAS Melawi (Kal-Bar) dan DAS Katingan (Kal-Teng). Muara DAS melawi meliputi Sungai Ella hilir, Juoi, Umbak, Sangkei, Mentatai, Serawai, Labang, Jelundung, Lekawai, Ambalau; Muara DAS Katingan meliputi Sungai Bimban, Tai, Hiran, Samba, Senamang. Pada bagian hulu DAS banyak terdapat riam/jeram dan air terjun yang dipengaruhi curah hujan.

Potensi & Ancaman

Secara umum potensi yang terdapat di dalam 2 wilayah pegunungan (Kapuas Hulu & Schwanerr) tersebut dapat dilihat dari Jenis utama berupa flora & fauna di kedua kawasan wilayah pelaksanaan proyek ini, ialah :

  1. Sungai Labian – Leboyan yang masuk ke dalam kawasan Pegunungan Kapuas Hulu, untuk Floranya terdapat 8 tipe hutan di atas dengan ketinggian 50 – 1.150 mdpl terdapat 695 jenis pohon, terdiri dari 15 marga dengan 63 suku dan 50 jenis antaranya endemic pulau Borneo. Kerabat kayu Gaharu. Suku Dipterocarpaceae terdapat 121 jenis, Shorea terdapat 30 jenis, Euporbiaceae terdapat 73 jenis, Clusiaceae terdapat 33 jenis, Burseraceae terdapat 30 jenis, Myrtaceae terdapat 28 jenis. Dan untuk jenis Faunanya terdapat 48 jenis mamalia, diantaranya Harimau dahan, Kucing hutan, Beruang madu, Kijang, Kijang emas, Rusa sambar, Kancil, Berang-berang. Terdapat 7 jenis kelompok primate, seperti Orang utan, Kelampiau, Hout, Kelasi, Beruk, Kera, Tarsius. Dari kelompok burung yang teridentifikasi ada 301 jenis dengan 151 marga dan 36 suku, 15 jenis migrant, 6 jenis temuan baru di Indonesia (Accipernisus, Dendricitta cinerasceus, Ficudela parva, Luscinia calliope, Pycononotus flasvescent, Rhinom yas brunneata), 6 jenis burung yang dilindungi UU, Enggang gading, 24 jenis endemic Borneo. Untuk reptilian dan amphibian, ada sekitar 1.500 specimen, 103 telah diidentifikasi dengan 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura, 21 jenis ular. Untuk jenis ikan ada 4.000 specimen dengan 112 jenis ikan, 41 marga, 12 suku dan 14 jenis endemic Borneo. (Sumber TNBK)
  2. Sungai Kayan yang masuk ke dalam kawasan Pegunungan Schwaneer, untuk floranya ada 817 jenis (610 marga dalam 139 suku).vegetasi hutan ekosistem tropika tersebar di sepanjang Sungai Jelundung, Serawai dan sungai kecil lainnya. Pada ketinggian 250 -700 mdpl pada lereng bukit di dominasi famili Dipterocarpaceaea, genus Shorea spp, Hopea spp, Agathis bomeensis. Ketinggian 700 – 1.000 mdpl di dominasi famili Dipterocarpaceaea juga Myrtaceae, Sapotaceae, Lauraceae, Euphorbiaceaea dan ada Rafflesia tuan-mudae Becc, Palem-paleman  (Areca spp, Igunura walici, Pinanga spp). Ketinggian 1.000 – 1.200 mdpl terdapat hutan kerangas dari suku Myrtaceae jenis (Syzigium rhamphiphyllum, Syzigium rosttratum, Syzigium lineatum). Ketinggian 1.200 – 1.600 mdpl hutan tipe kerangas dengan suku Euphorbiaceae, Sapotaceae, Lauraceae, Fagaceae dengan jenis Aporosa sp, Palaquium dasyphyllum, Litsea densifolia, Baccaurea racemosa, Listhocarpus ewyckii. Ketinggian 2.000 – 2.278 mdpl ditemukan hutan lumut yang di dominasi dari suku Ericaceae, Rubiaceae serta jenis palma dan liana, juga ditemukan anggrek (Apendicula alba, Trichostosia lanseolaris, Trischostosia velutina). Untuk Faunanya terdapat 221 jenis yang telah diidentifikasi, terdiri dari 65 jenis mamalia, 140 jenis aves (burung), 9 jenis reptilian, 7 jenis amphibian. Jenis Primata dari ketinggian 100 – 1.200 mdpl ada lutung, Wau-wau tangan hitam, Kelasi; dikawasan punggung perbukitan sekitar sungai Ella terdapat Orang utan dan Singa puar. Burung terdapat 8 jenis endemic Borneo, 52 jenis burung dilindungi UU, 2 jenis burung ‘new record’ (Punai Imbuk, Uncal merah), Burung Ruai, burung Kuau kerdil Burung Enggang gading. Jenis Herpetofauna seperti Kodok ada 91 jenis, seperti Kodok Bako dan Ular 168 jenis, biawak hijau, ular Lamaria schegeli, kadal Spenomorphus sp, kura-kura.  (Sumber : TNBK-TNBB)

Dalam 4 tahun terakhir ini terdapat pula ancaman yang dihadapi oleh masyarakat dalam menerapkan inisiatif lokal guna pengelolaan DAS, permasalahan dan ancaman yang dialami ekosistem disekitar lokasi ini, ialah lebih karena disebabkan oleh rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, pertambahan laju jumlah penduduk di dalam masyarakat juga menjadi suatu ancaman tersendiri dalam pemanfaatan lahan untuk keberlangsungan kehidupan masyarakatnya.

  1. Dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit, mulai proses land clearing yang membutuhkan lahan sangat luas dalam membuka kawasan hutan mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati ekosistem di suatu kawasan di dalam 2 wilayah tersebut;
  2. Semakin meningkat terjadinya degradasi kawasan hutan dengan membuka perkebunan kelapa sawit;
  3. Hilangnya sumber ketahanan ekonomi masyarakat setempat, karena sifat perkebunan yang monokultur dengan hamparan lahan yang luas
  4. Semakin sempitnya ruang kelola masyarakat dalam memenuhi kebutuhan kehidupan dan penghidupan sehari-hari, baik itu oleh pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit maupun karena pertambahan laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.
  5. Semakin hilangnya kearifan lokal yang disebabkan kawasan adat yang dimiliki oleh masyarakat di buka untuk perkebunan kelapa sawit;
  6. Semakin cepatnya proses sedimentasi di alur sungai;
  7. Semakin cepatnya proses perubahan iklim yang tidak didukung oleh daya dukung kawasan di lokasi, karena ancaman banjir di musim hujan semakin cepat dan juga sebaliknya ancaman kekeringan semakin cepat juga di musim kemarau.

Aktivitas Sosial – Ekonomi Masyarakat

Aktivitas Ekonomi di kedua lokasi itu dapat di gambarkan sebagai berikut :

  • Sungai Labian – Leboyan, yang merupakan sebagin besar masuk ke dalam Kecamatan Batang Lupar (Hulu) dan Selimbau (Hilir). Untuk di Kecamatan Batang Lupar yang berada di bagian hulu, pada umumnya masyarakat melakukan aktivitas perekonomian memanfaatkan hasil hutan dan melakukan sistem perladangan (padi, sayuran) yang juga saling mendukung di dalam komoditi perkebunan rakyat seperti karet. Sedangkan masyarakat di Kecamatan Selimbau yang berada di bagian hilir sungai, memanfaatkan kondisi sungai dari aktivitas ekonomi komoditi perikanan (budidaya maupun menangkap di alam bebas), komoditi hasil hutan non kayu berupa pengembangan madu hutan yang memang juga sebagai nilai tambah penadapatan perekonomian masyarakatnya, selain itu juga masayarakat dalam memanfaatkan lahannya digunakan untuk sistem perladangan (padi & sayuran) serta perkebunan rakyart berupa karet. Berdasarkan data statistik Perusahaan besar yang berada di kawasan Sungai Labian – Leboyan, sebelumnya terdapat aktivitas HPH oleh perusahaan Bumi Raya serta Illegal Logging, namun pada sekarang ini aktivitas tersebut telah berhenti. Dan masyarakat sekarang ini hantui oleh masuknya rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit Sinar Mas Group yang memiliki konsesi di sekitar wilayah Danau Sentarum, sampai sekarang masyarakat menolak masuknya perkebunan kelapa sawit tersebut.
  • Sungai Kayan, aktivitas perekonomian masyarakat di sekitar Sungai kayan yang membentang di Kecamatan Kayan Hilir, masih memanfaatan hasil hutan berupa kayu (untuk membuat rumah) maupun non kayu. Selain dari hasil hutan juga perkebunan rakyat berupa karet dan dengan menggunakan sistem perladangan untuk memenuhi kebutuhan padi dan sayuran.

Aktivitas perusahaan yang siap masuk berinvestasi di wilayah tersebut dan menjadi suatu anacaman tersendiri ialah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Karena berdasarkan perencanaan tersebut, terdapat 3 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di sekitra Sungai Kayan dan di Kecamatan Kayan Hilir. Ketiga Perkebunan kelapa sawit itu ialah PT Mega Sawindo Perkasa – PT Sumatera Makmur Lestari – PT Bintara Tani Nusantara.

Pemanfaatan Kawasan Hutan Di sekitar Sungai Oleh Masyarakat

Jenis produk yang menjadi andalan di 2 kawasan tersebut masih berupa pemanfaatan Hasil Hutan Non kayu seperti kerajinan, madu hutan, buah-buahan, rempah – rempah untuk pengobatan, kerajinan, pertanian, perkebunan karet. Dalam produk yang dihasilkan oleh masyarakat tersebut, digunakan langsung oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup sehari-hari terutama dari jenis pertanian, kerajinan, pengobatan, buah-buah.

  • Berdasarkan data statistik Kabupaten Kapuas Hulu (2005) bahwa luasan sistem pertanian padi mencapai 430 Ha dengan produksi 1251 Ton/Tahun, Jenis Peternakan di dominasi Babi dengan jumlah 371 dengan produksi daging 4565 Kg, Perkebunan rakyat yang dilakukan oleh dengan jenis (Karet, Cokelat, sahang/lada). Untuk Kecamatan Selimbau luas komoditi pertanian 1005 Ha dengan produksi 2764 Ton/Tahun, Produksi perikanan mencapai 479,1 Ton dan sistem budidaya dengan luas 26,04 Ha, Komoditi peternakan di jenis hewan Sapi dengan jumlah 7880 ekor dan produksi daging 57.903,3 Kg, Komoditi perkebunan rakyat (Karet, Lada/sahang, kelapa).
  • Berdasarkan data statistik Kabupaten Sintang (2004) Kecamatan Kayan Hilir luas komoditi pertanian mencapai 1954 Ha dengan produksi 4335 ton/tahun, Komoditi peternakan mencapai 57.008 ekor dengan jenis (ternak besar, ternak kecil dan unggas).

Pengguna produk dan jenis pelayanan produk juga ada yang dijual seperti madu hutan dan karet, yang semuanya dalam mengatur perekonomian masyarakat secara finansial terdapat Credit Union maupun Usaha Bersama dalam pelayanan keuangan di masyarakat.

Penentuan Kebijakan Di Masyarakat Dalam Pengelolaan DAS

Luas total luasan Kabupaten Kapuas Hulu yang merupakan bagian wilayah poyek di Sungai Labian – Leboyan mencapai 2.984.200 Ha dengan pemanfaatan kawasan sebagai hutan mencapai 66,03% (1.970.564 Ha) sisanya mencapai 33,97% merupakan terdiri dari pemukiman, Sawah, tanah kering, kebun campuran, perkebunan, perladangan, perairan darat, tanah terbuka, dll.

Sedangkan untuk total luasan Kabupaten Sintang yang merupakan bagian wilayah proyek di Sungai Kayan mencapai 2.163.500 Ha dengan pemanfaatan kawasan hutannya mencapai 50% (1.081.750 Ha) sisanya mencapai 50% merupakan terdiri dari pemukiman, Sawah, tanah kering, kebun campuran, perkebunan, perladangan, perairan darat, tanah terbuka, dll.

Masyarakat di dua lokasi tersebut dapat menggunakan secara formal dan informal kebijakan yang berada di masyarakat. Kelembagaan yang berada di dalam masyarakat, baik itu kelembagaan adat maupun kelembagaan desa dapat terlibat dan mendukung proses pengelolaan DAS Kapuas yang di dorong oleh inisiatif masyarakat. Akses masyarakat dalam memenuhi penghidupan dan kehidupan searah dengan pengelolaan yang berlaku di dalam suatu sistem kelembagaan adat menurut kearifan lokalnya, sehingga pengelolaan kawasan masyarakat yang berbasis model pengelolaan DAS dapat menunjang segi-segi penghidupan di dalam masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: