Perkebunan Sawit Dongkrak Pendapatan Masyarakat

Jumat, 14 Mei 2010

Perkebunan Sawit Dongkrak Pendapatan Masyarakat

Bupati Kapuas Hulu, Abang Tambul Husin dan Susanto Yang (PT Sinar Mas Group)
Bupati Kapuas Hulu, Drs H Abang Tambul Husin dan Susanto Yang dari PT Sinar Mas Group pada saat melakukan dialog di Bank BPD Cabang Semitau

SEMITAU –Pimpinan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Barat, Cabang Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu Yayat Hada Sholihin, mengatakan dampak dari perluasan perkebunan sawit di Kabupaten Kapuas Hulu telah mendongkrak pendapatan masyarakat Kecamatan Semitau.

“Sejak satu tahun terakhir perputaran uang di BPD Kalbar Cabang Semitau naik sekitar 30 persen atau menjadi sebesar Rp10 miliar per bulannya dari sebelumnya Rp7 miliar,” kata Yayat Hada Sholihin di Semitau, belum lama ini.

Ia menjelaskan, meningkatnya perputaran uang sekitar 30 persen itu dari sektor perkebunan sawit. “Karena kami ada kerja sama dengan PT Sinarmas Group dalam hal pembayaran gaji karyawan yang jumlahnya mencapai Rp3 miliar per bulan,” kata Yayat.

Perputaran uang Rp10 miliar per bulan di BPD Kalbar Cabang Semitau terdiri dari sektor perkebunan karet sebesar 25 persen, penangkaran ikan arwana 25 persen, sektor perkebunan sawit 30 persen dan lain-lain, seperti tabungan, giro dan deposito 20 persen, katanya.

Pimpinan PT Sinarmas Group VIII Wilayah Kalbar Susanto Yang, membenarkan pihaknya telah bekerja sama dalam hal pembayaran gaji karyawan perusahaannya. “Kami tinggal transfer uang ke BPD Kalbar per bulannya sesuai gaji yang harus dibayar untuk karyawan Rp3 miliar per bulan,” kata Susanto.

Ia menjelaskan, sebenarnya perputaran uang yang pihaknya keluarkan untuk pembayaran gaji saja mencapai Rp7 miliar per bulannya. “Sebesar Rp3 miliar untuk karyawan tetap dan kontrak. Sementara untuk tenaga harian lepas mencapai Rp4 miliar per bulan,” ujarnya.

Ia optimistis, ke depannya perputaran uang akan semakin besar lagi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Semitau dan Kabupaten Kapuas Hulu pada umumnya. PT Sinarmas Group akan mengembangkan perkebunan sawit di Kabupaten Kapuas Hulu seluas 160 ribu hektare dengan 10 anak perusahaannya dengan total investasi sebesar Rp4,5 triliun dan diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja langsung sekitar 100 ribu orang. Susanto menambahkan, pihaknya saat ini sedang merintis penjualan CPO (Crude Palm Oil) melalui Pelabuhan Malaysia, selain murah dari segi ongkos juga bisa menambahkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Kapuas Hulu dari sektor pajak.

Bupati Kapuas Hulu Abang Tambul Husin, mengatakan tujuh tahun ke depan Kapuas Hulu akan menjadi kabupaten primadona di antara kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kalbar. Karena sektor perkebunan sudah mulai panen sehingga pendapatan per kapita masyarakat akan meningkat.

Ia mengatakan, hingga akhir 2009 dirinya telah menandatangani sekitar 300 ribu hektare untuk pengembangan perkebunan sawit di kabupaten itu. “Salah satunya PT. Sinarmas Group yang akan mengembangkan sawit seluas 160 ribu hektare hingga 2014 mendatang,” ujarnya.

Tambul menyatakan, dipilihnya pengembangan perkebunan sawit karena Kapuas Hulu memiliki lahan yang luas, sementara sektor perkayuan, karet dan lainnya kurang diminati investor. “Saya tidak mempermasalahkan masyarakat berkeinginan untuk menanam karet, tetapi untuk pengembangan lebih luas lagi hingga kini belum ada investor yang berminat, tetapi untuk sawit banyak,” katanya. (lil)

DPRD Kubu Raya Berharap PT PWA Beroperasi

Senin, 26 April 2010

DPRD Kubu Raya Berharap PT PWA Beroperasi

PONTIANAK –Komisi B membidangi perekonomian DPRD Kabupaten Kubu Raya memiliki perhatian besar terhadap pengembangan investasi kebun sawit di daerahnya. Mereka juga berharap operasional PT Pinang Witmas Abadi (PWA), salah satu perusahaan sawit yang sudah berinvestasi di Kubu Raya segera melanjutkan investasinya di lahan seluas18 ribu hektar.

“Hasil dialog kami bersama perwakilan masyarakat Desa Sungai Asam, Pasak Tiang, Bengkarek dan Desa Tebang Kacang Kecamatan Sungai Raya—Kubu Raya, Sabtu (24/4), masyarakat menginginkan secepatnya menanam sawit di lahan mereka,” kata Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Kubu Raya, Umar H Abdul Manan di Pontianak, kemarin.

Umar menjelaskan, ada ribuan masyarakat di empat desa itu sebelumnya telah bekerja di PT PWA. Mereka bekerja sejak tahap pembukaan lahan dan pembibitan dengan menerima gaji standar upah minimum regional (UMR). “Tapi akibat lahan berpolemik (dengan Pemkab Kubu Raya), masyarakat yang tadinya telah mempunyai pekerjaan harus kehilangan lagi mata pencaharian mereka,” ujarnya.

Umar mengatakan, pada dasarnya masyarakat di empat desa itu menginginkan Pemda Kubu Raya mengambil langkah yang objektif dan profesional, sesuai perundang-undangan berlaku. “Kalau PT PWA telah menang atas gugatannya kepada Bupati Kubu Raya dan PTPN XIII di PTUN Pontianak, kenapa tidak diserahkannya saja pengembangan perkebunan sawit pada perusahaan itu. Apalagi masyarakat telah mengenal PT PWA,” kata Umar.

Dalam waktu dekat Komisi B DPRD Kubu Raya akan memanggil Pemkab Kubu Raya, PT PWA dan PTPN XIII untuk duduk satu meja, mencari jalan keluar terkait 18 ribu hektar lahan yang pernah mereka persoalkan di PTUN. Dewan berharap agar permasalahan itu tidak berkepanjangan. “Namun sebelum memanggil ketiga pihak terkait itu, Komisi B akan melakukan rapat internal terlebih dahulu dalam menyikapi polemik tersebut,” ujarnya.

Komisi B menginginkan status quo atas lahan sekitar 18 ribu hektare itu cepat diselesaikan. “Kami berharap Pemkab mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat, bukan berdasarkan kelompok atau perorangan,” imbuh Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Saifudin (35), salah seorang tokoh masyarakat Desa Bengkarek Kecamatan Sungai Raya mendesak pemerintah untuk tidak memperpanjang polemik tersebut. “Kalau sampai polemik itu panjang, kami sebagai petani yang dirugikan. Karena tidak bisa menanam sawit. Sementara bibit sawit telah siap tanam,” katanya.

Ia berharap pemerintah bersikap profesional dalam hal itu. “Kami bersama PT PWA telah merintis pengembangan sawit mulai dari awal sehingga mengetahui betul komitmen perusahaan itu untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.

Ancen Senen (45), salah seorang petani sawit Desa Lingga mengatakan, ia dan 1.500 kepala keluarga atau sekitar 6.000 jiwa di Desa Lingga sudah tidak sabar untuk menanam bibit sawit. Apalagi lahan sudah disiapkan untuk PT PWA. Ancen berharap Bupati Kubu Raya dan PTPN XIII berlapang hati menerima putusan PTUN Pontianak yang memenangkan gugatan PT PWA. “Kami inginkan kepastian hukum dalam mengembangkan perkebunan sawit di Desa Lingga Sungai,” ujarnya.

Sebelumnya, pengacara PT PWA, Rivai Kusumanegara dalam keterangan pers mengatakan, perusahaan perkebunan PT PWA siap melakukan kerja sama dengan Bupati Kubu Raya dan mengharapkan kepastian hukum, agar secepatnya melanjutkan investasi pengembangan kebun sawit seluas 18 ribu hektare di kabupaten termuda di Kalbar itu. “Kami tetap menginginkan investasi di bidang perkebunan sawit di Kabupaten Kubu Raya, mengingat investasi yang telah dikeluarkan sekitar Rp 27 miliar sejak tahun 2005 hingga sekarang,” bebernya.

Rivai mengatakan, pada dasarnya PT PWA mengharapkan terjalinnya komunikasi yang baik antara Bupati Kubu Raya dan PTPN XIII serta masyarakat sebagai petani sawit. “Kami sangat patuh pada perundangan-undangan yang berlaku. Sejak tahun 2007 lalu PT PWA telah melakukan pengajuan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dengan beberapa kali perbaikan dan telah disetujui oleh Komisi Penilai Amdal,” kata Rivai

PT PWA merupakan salah satu anak perusahaan Triputra Agro Persada (TAP) yang telah mengembangkan perkebunan sawit di beberapa provinsi. Di antaranya Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Batanghari di Provinsi  Jambi, Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Timur, Kabupaten Berau di Provinsi Kalimantan Timur, serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kalimantan Selatan.

Ada juga Kabupaten Seruyan, Lamandau, Katingan dan Sukmara di Kalimantan Tengah. Sementara di Provinsi Kalbar, yaitu Kabupaten Sintang, di Kecamatan Ketungau Hulu, Ketungau Hilir atas nama PT Kiara Sawit Abadi dan PT Buana Hijau Abadi, di Kabupaten Kubu Raya atas nama PT PWA dan di Kabupaten Ketapang atas nama PT Harapan Hibrida Kalbar. (bdu/probis)

Target Naik 10 Persen BMPD Berikan Kemudahan

Kamis, 31 Maret 2011

Target Naik 10 Persen BMPD Berikan Kemudahan

PONTIANAK –Investor diberikan peluang sebesar-besarnya untuk menanamkan modal di Provinsi Kalbar. Pada Tahun 2011, Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Kalimantan Barat menargetkan investasi naik 10 persen.

“Rencana investasi di Kalbar telah dimulai dengan peninjauan potensi maupun lokasi investasi oleh beberapa calon investor seperti dari Polandia, Vietnam dan Thailand dalam kurun waktu 3 bulan terakhir,” kata Drs Yoseph Alexander MSi, Kepala BPMD Kalbar ditemui Equator di ruang kerjanya, belum lama ini.

Alexander bertekad menaikkan investasi 10 persen dari tahun sebelumnya, dari sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA). Pada tahun 2010, realisasi penanaman modal daerah sebesar Rp 8 triliun lebih dengan 137 proyek.

Pada tahun 2009, realisasi penanaman modal di provinsi itu sekitar Rp 6 triliun lebih, dengan totoal 129 proyek.

Dikatakan mantan Wakil Bupati Kapuas Hulu ini, iklim investasi di Kalbar juga meningkat, terutama pada PMA di tahun 2010 yang mencapai sekitar 1 juta US Dollar lebih dengan 66 proyek yang terlaksana. Sedangkan di tahun 2009, PMA mencapai sekitar 900.000 US $ lebih dengan 58 proyek.

Sesuai amanah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk meningkatkan sektor ekonomi Indonesia pada tahun 2014 mencapai sekitar 8 persen, maka BPMD Kalbar akan memberikan kemudahan pelayanan untuk penanaman modal. Diawali dengan pendirian Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di 13 kabupaten/kota se-Kalbar kecuali di Kabupaten Kapuas Hulu.

Gubernur Kalbar Drs Cornelis MH, sebelumnya mengatakan pemerintah memberikan peluang investasi sebesar-besarnya serta birokrasi yang tidak menyulitkan para investor. “Hal ini menjadi langkah konkrit dalam mewujudkan peningkatan persentase dari sektor ekonomi tahun 2014 mendatang,” pungkasnya. (boy)

Dukung Investasi Masuk Putussibau

Rabu, 13 Oktober 2010

Dukung Investasi Masuk Putussibau

PUTUSSIBAU. Mantan Wakil Ketua DPRD Kapuas Hulu, L Lasa Gampa menganjurkan masyarakat mesti mendukung masuknya investasi. Sebab, dapat meningkatkan pendapatan bagi daerah.

“Ketika pendapatan daerah meningkat, tentu akan berdampak kepada peningkatan pembangunan oleh pemerintah. Masyarakat juga akan merasakan manfaat dari pembangunan yang dilakukan,” ungkap Lasa.

Lebih lanjut Lasa mengatakan, investasi merupakan salah satu instrument penting untuk meningkatkan pendapatan. Sehingga untuk mendukung itu, masyarakat mesti menciptakan iklim yang kondusif bagi masuknya para investor. Di daerah-daerah yang telah maju, investasi telah menjadi faktor pendukung peningkatan perekonomian masyarakat. baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

“Oleh karena itulah, saat ini pemerintah kabupaten Kapuas Hulu terus mendorong masuknya investasi ke daerah ini. Karena akan ada multi player efek yang ditimbulkan karena investasi tersebut,” katanya.

Lasa mencontohkan di beberapa daerah di Kalimantan Barat ini yang investasinya telah berjalan baik. Seperti di Kabupaten Landak, Sanggai, Sekadau, Sintang dan Melawi. Beberapa sektor potensial, seperti sektor kehutanan dan perkebunan di daerah tersebut selalu menjadi incaran. Dampaknya, pendapatan daerah menjadi meningkat karena adanya pajak yang dikenakan kepada perusahaan.

“Disatu sisi, masyarakat juga merasakan efek kemajuan daerah di mana investasi tersebut masuk. Mulai dari peningkatan pendapatan, sarana prasarana dan terbukanya isolasi daerah,” tambah Lasa.

Karena itu, Lasa menghimbau agar masyarakat Kapuas Hulu terus mempertahankan situasi keamanan dan ketertiban daerah yang sudah bagus saat ini. Sehingga para investor akan melirik Kabupaten Kapuas Hulu sebagai salah satu tujuan investasi. (lil

Masyarakat Mesti Terima Calon Investor

Selasa, 9 Juni 2009

Masyarakat Mesti Terima Calon Investor

PUTUSSIBAU. Bupati Drs H Abang Tambul Husin, mengimbau seluruh elemen masyarakat dan stakeholders untuk mendukung berbagai kebijakan pemerintah terhadap masuknya calon investor, terutama investor perkebunan sawit. Pemkab Kapuas Hulu telah memberikan izin sekitar 300 ribu hektare kepada beberapa perusahaan yang akan menanamkan modalnya di sektor perkebunan sawit. “Banyak investor yang masuk ke Kapuas Hulu, maka secara otomatis uang miliaran bahkan triliunan rupiah akan ditanam dan di bawa ke Kapuas Hulu. Tentu saja ini akan berdampak pada perkembangan perekonomian daerah dan masyarakat,” terang Bupati dalam tiap kesempatan. Dikatakan Bupati, Pemkab telah bekerja keras dan mencari solusi terhadap pembangunan daerah yang selama ini masih tertinggal di berbagai sektor. Sedangkan dana yang tersedia untuk membangun berbagai infrastruktur dasar sangat terbatas, dan tidak sebanding dengan wilayah Kapuas Hulu yang begitu luas. “Apalagi hal ini belum didukung dengan sumber daya manusia masyarakat yang memadai. Sebagian masyarakat masih menggantungkan hidupnya kepada sumber daya alam yang semakin hari semakin habis,” paparnya. Bupati menjelaskan, Kapuas Hulu dengan luas 29.842 kilometer per segi (sekarang kabupaten terluas di Kalbar) dengan penduduk hanya sekitar 200-an ribu jiwa (7 jiwa per kilometer per segi) harus menarik investasi sebanyak-banyak demi kemajuan daerah. Dengan 300 ribuan hektare sawit di Kapuas Hulu, maka memerlukan tujuh puluhan ribu tenaga kerja, bahkan tenaga kerja yang ada di Kapuas Hulu tidak akan mencukupi. Selain itu, sekitar 75 ribu hektare kebun sawit ini akan menjadi milik masyarakat dalam bentuk plasma dan tentu saja menjadi aset masyarakat. “Secara makro, manfaat dan keberadaan investor terhadap perekonomian akan sangat signifikan, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan arus barang dan jasa, dan peningkatan pembangunan di sector lainnya,” jelasnya. Namun, Bupati menyadari, masih ada masyarakat yang belum memahami pentingnya perkebunan sawit di Kapuas Hulu. Untuk itu, Bupati mengajak semua staf dan jajaran pemerintahan di kabupaten, kecamatan sampai ke desa-desa untuk bersama-sama mensosialisasikan, dan memberikan pandangan yang baik mengenai masuknya investor ke Kapuas Hulu. Menurut Tambul Husin, Kapuas Hulu merupakan Kabupaten Konservasi dan lebih dari 51,21 persen wilayahnya dikompensasikan untuk kawasan konservasi dan dilindungi. Pemerintah daerah bersama-sama masyarakat terus membuat kawasan konservasi baru, seperti danau-danau lindung baru. “Ini membuktikan bahwa kita tetap berkomitmen terhadap kebijakan-kebijakan daerah yang menyangkut Kabupaten Konservasi. Namun, pemerintah juga menginginkan masyarakatnya maju. Dengan mengelola secara optimal sisa wilayah yang dikompensasikan, yaitu 48,79 persen,” ungkapnya. Ditambahkan orang nomor satu di jajaran pemerintah Bumi Uncak Kapuas, saat ini berbagai daerah berlomba-lomba untuk menarik investasi demi kemajuan daerahnya. “Kapuas Hulu yang selama ini jauh di perhuluan harus welcome (menyambut, red) pada para investor, masyarakat harus menerima investor dengan tangan terbuka. Masuknya investor akan memberikan implikasi luas terhadap perkembangan dan kemajuan daerah,” pungkasnya. (wieK)

Dukung Perkebunan Ramah Lingkungan

Senin, 31 Agustus 2009

Dukung Perkebunan Ramah Lingkungan

BADAU. Wakil Bupati Kapuas Hulu, Drs Y Alexander, MSi, dengan tegas mengaku akan mendukung perkebunan sawit yang telah mengangonti izin pemanfaatan lahan dari pemerintah kabupaten. Terlebih, apabila perkebunan itu tidak melakukan pembakaran lahan pada saat pembersihan areal. “Jika perusahaan itu tidak nakal dan pro terhadap rakyat apa salahnya jika kami dari Pemkab Kapuas Hulu memberikan dukungan kepada perusahaan perkebunan sawit,” kata Alexander pada saat meninjau perkebunan sawit milik Perusahaan Sinar Mas di Kecamatan Badau, baru-baru ini. Wabup yang saat itu didampingi Wakapolres, Kompol Warsito, Camat Badau Drs Acmad Salafudin dan perwakilan perusahaan Dinul Fahrizal mengacungi jempol dengan perkebunan tersebut karena sama sekali tidak melakukan pembakaran lahan. “Ini salah satu perusahaan yang benar-benar ramah lingkungan. Dan tidak benar anggapan Malaysia yang menuduh kita mengirim kabut ke negar mereka. Justru kalau di Badau merekalah yang mengirim kabut ke negara kita,” tegas Alex. Ditambahkannya, Pemerintah Daerah telah menyiapkan sekitar 300 ribu hektar lahan untuk perkebunan sawit. Dari areal yang disiapkan itu, sudah ada beberapa wilayah yang menjadi lahan sejumlah perusahaan sawit dengan berbagai tingkatan perizinan. Hanya saja Alex berharap, perusahaan yang telah mengangongi izin benar-benar pada tujuan pengembangan sektor perkebunan. “Kita berharap perkebunan sawit, tidak menjadikan perkebunan sawit sebagai kedok untuk kegiatan lainnya. Terutama untuk mendapatkan kayu pada saat pembersihan lahan,” tambah Alex. Pemkab Kapuas Hulu, komitmen terhadap berbagai upaya peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan terus mendorong masuknya investasi di Bumi Uncak Kapuas. Sebab kata Alex, investasi merupakan salah satu point penting untuk menggerakkan roda perekonomian daerah. “Tanpa investasi, ekonomi akan sulit berkembang. Masyarakat juga akan sulit meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan,” katanya. Dengan investasi jelasnya, sektor perkebunan sawit diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Terlebih dengan telah ditutupnya usaha sektor perkayuan. Sehingga masyarakat membutuhkan pekerjaan untuk menggantungkan hidup. Sementara itu, Dinul Fahrizal, perwakilan perusahaan Sinar Mas Group di Badau mengatakan bahwa pihaknya tetap pada komitmen awal. Terlebih diakuinya, lahan yang digarap pihaknya merupakan areal pemanfaatan lain yang memang diperuntukkan bagi perkebunan sawit. “Kita tidak pernah main-main dengan investasi yang ada di perbatasan ini. Semuanya telah kita selesaikan sehingga bisa pada tahap sekarang ini. Dan kita berharap, akan berjalan sesuai rencana yang telah ada,” jelas Dinul. Dinul mengakui mekanisme yang dianut bersama masyarakat adalah sistem bagi hasil dengan persentase 80 persen ke perusahaan dan 20 persen ke masyarakat. Dimana seluruh operasional pemeliharaan, pemupukan dan lainnya dilakukan perusahaan. Dengan harapan, hasil produksi akan merata sehingga hasil yang diterima masyarakat juga akan sama. “Kita ingin menempatkan masyarakat sesuai proporsi yang sama,” katanya. Ditanya apakah perusahaan Sinar Mas dalam pembersihan lahan melakukan pembakaran lahan. Dinul lantas mempersilahkan melakukan pengecekan. “Silahkan cek ke perkebunan, kami pastikan tidak ada satu titik api. Kami menumpuk sampah itu di bagian gang sawit,” tandasnya. (lil)

Perbatasan Pontensial Menarik Investor

Senin, 25 Agustus 2008

Perbatasan Pontensial Menarik Investor

Badau, Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, Kecamatan Badau berpotensi besar untuk menarik investor guna menanamkan investasinya di Kabupaten Kapuas Hulu.
Hal itu dikarenakan kecamatan di wilayah kecamatan memiliki akses ke luar negeri yang lebih mudah. “Hanya saja bagaimana pemerintah menggarap potensi yang telah ada.  Karena secara geografis saja sudah memiliki potensi yang menjanjikan,” ungkap Wakil Bupati Kapuas Hulu, Drs Y Alexander, MSi ketika menyerahkan 1.200 bendera merah putih di wilayah perbatasan, baru-baru ini.
Menurut Alexander, Kecamatan  Badau misalnya,  merupakan kekayaan Kapuas Hulu yang belum terangkat secara maksimal. Kendala pembangunan investasi di kawasan perbatasan,  disebabkan ada anggapan bahwa Kapuas Hulu tidak aman untuk investasi.
Selain itu juga, karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan  untuk berinvestasi. Mengingat orientasi pasar para investor adalah ke Kota Pontianak sebagai ibukota provinsi.
“Padahal, jika investasi dilakukan di Badau yang berdekatan dengan negara tetangga, secara otomatis pasar yang dituju adalah Malaysia dan sekitarnya. Dengan demikian, devisa yang didapat pun juga akan lebih baik akibat selisih kurs mata uang. Sementara di satu sisi, biaya yang dikeluarkan menggunakan kurs lokal, baik itu untuk tenaga kerja, operasional dan lainnya. Maka keuntungan yang diperoleh pun akan meningkat,” ungkapnya.
Dikatakannya, sejauh ini yang menjadi kendala enggannya investor melirik Badau karena akses jalan yang hingga sekarang belum seluruhnya membaik. Langkah dan upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten adalah mendesak Pemerintah Pusat, melalui pemerintah provinsi segera membenahi jalan yang ada.
Mengingat jalan Lintas Utara maupun Lintas Selatan merupakan jalan negara. Akan tetapi, pihaknya juga telah melakukan berbagai perbaikan sarana prasarana pendukung.
Namun untuk mencapai Kota Putussibau yang berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Badau bisa lancar.
Ditambahkannya pula, jika kondisi jalan sudah baik, dan lintas batas antarnegara sudah terbuka, maka dirinya yakin para investor akan melirik Kapuas Hulu. Karena SDA Kapuas Hulu sangat melimpah, terutama kekayaan hutan.
Namun dalam masalah ini, Pemkab Kapuas Hulu telah berusaha keras dengan memprioritaskan daerah Lintas Batas. Bahkan pengadaan berbagai prasarana juga telah dilakukan, misalnya perbaikan jalan dan sebagainya.
Diharapkan dengan pembangunan daerah perbatasan, maka bermaksud untuk merubah image yang berkiblat ke Pontianak sebagai satu-satunya orientasi pasar.
Jika kawasan lintas batas telah diciptakan kondisi sedemikian rupa, maka orientasi pasarnya bisa ke Malaysia Timur yang berbatasan langsung dengan Kapuas Hulu. Untuk itu, Pemkab Kapuas Hulu telah merencanakan membuka pasar alternatif. Sehingga bisa menarik investor dan Kapuas Hulu akan menjadi salah satu darah yang akan diminati oleh para penanam saham.
Terpisah, Anggota DPRD Kapuas Hulu dari  Fraksi Golkar, Agus Mulyana, SH. mengatakan bahwa Badau sebagai gerbang perbatasan merupakan mutiara terpendam yang selama ini belum tergarap maksimal.
Dikatakan Agus, investasi bias masuk karena adanya berbagai kemudahan. Selain infrastruktur, sarana dan prasarana, berbagai kebijakan juga mesti diciptakan sedemikian rupa. Karena jika birokasi saja sudah berbelit-belit, maka anggapan investor ke depannya juga akan semakin semrawut.
Untuk itulah diperlukan berbagai kebijakan yang memberikan kemudahan bagi investor yang ingin berinvestasi di Kapuas Hulu. Khususnya di kawasan Badau dan perbatasan. (wieK)
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.